MARAKNYA
tindakan kejahatan (crime) yang dilakukan oleh kawanan geng motor
akhir-akhir ini jelas sangat meresahkan masyarakat. Kota Pekanbaru saja
misalnya, yang baru-baru ini digoncang aksi kriminalitas anggota geng
motor. Mereka tidak segan lagi memperlengkapi diri dengan “senjata
tajam”. Kejahatan sadistis sudah terang-terangan dilakukan para anggota
geng motor. Bukan antara kelompok geng motor yang menjadi korban.
Malahan kejadian dini hari tanggal 30/09/2012 di Purna MTQ (Pekanbaru,
Riau) anggota geng motor sudah membabi buta menyerang masyarakat. Entah
apa motivasinya dari anomali-anomali yang dilakukan anggota geng motor
ini. Apabila kita pandang dari diferensiasi (perkembangan) sosial, sudah
jelas memang, kelompok geng motor adalah “produk budaya barat” Dalam
masyarakat modern yang sangat kompleks dan heterogin, misalnya
masyarakat urban, kota-kota besar dan metropol, perangai anti sosial dan
kejahatan itu berkembang dengan cepatnya. Kondisi lingkungan dengan
perubahan-perubahan yang cepat, norma-norma dan sanksi sosial yang
semakin longgar serta macam-macam sub-kultur dan kebudayaan asing yang
saling berkonflik, semua faktor itu memberikan pengaruh yang mengacau,
dan memunculkan disorganisasi dalam masyarakatnya. Tak ayal, anggota
kelompok genk motor dengan tingkah laku yang abnormal (cendrung brutal)
ini sebenarnya merupakan dampak dari faktor-faktor diatas.
Namun berbeda dengan kaca mata sosiologis dalam memandang kenapa aksi brutal geng motor ini muncul. Pertama: ada perubahan sosial (social change), artinya seluruh aspek kultur maupun struktur masyarakat sudah mulai berubah. Baik keluarga dan masyarakat secara keseluruhan terjadi perubahan sosial. Perubahan sosial berarti peran dan status juga ikut berubah. Ada tiga institusi yang mengalami perubahan. Institusi keluarga misalnya, moderenitas serta perkembangan dunia industrialisasi membuat Orang tua lebih menyibukkan diri belomba-lomba mencari uang. keadaan ini mengakibatkan peranan keluarga dalam mengontrol anak menjadi lemah. Dalam institusi sekolah telah terjadi pergeseran nilai, dimana moralitas serta budi pekerti di sekolah-sekolah mulai luntur, kurang ditanamkan lagi. Bahkan materi tentang pelajaran agama juga semakin dikurangi waktu jam belajarnya.
Selanjutnya dalam institusi kepolisian. Lemahnya penegakan hukum serta faktor tidak berjalanya sistem. Sehingga polisi “gagap” dalam membaca perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Terlebih lagi perubahan pada anak remaja. Sebenarnya perubahan anak remaja mungkin ingin menunjukkan identitas diri (menunjukkan keberadaan dia sebagai anak muda yang ingin diperhatikan dan ingin menonjol) Namun jalan mereka lain, justru mengarah pada penyimpangan sosial. Awalnya mereka membentuk perkumpulan berawal dari kegiatan seperti trek-trekan atau pacu motor. Ada juga karena kebiasaan mengompas dalam
lingkungan sekolah hingga akhirnya perilaku menyimpang ini di
internalisasikan dalam kelompok geng motor. Akhirnya, kelompok geng
motor ini merasa bebas dan lupa akan tanggung jawab dari kebebasan itu. Pada awal peristiwa seperti ini, polisi tidak ada bertindak
dan kurang antisipatif. Sehingga gerombolan geng motor makin
menjadi-jadi melakukan tindakan aksi brutal seperti pencurian dan
kekerasan.
Sejalan dengan pandangan diatas,
Sosiolog Prof. Dr Ashaludin Jalil M,si selaku Rektor Universitas Riau
ketika penulis mewawancarai menambahkan bahwa: gejala aksi brutal geng
motor hal ini dikarenakan pengaruh keadaan atau suasana yang hampir
disemua kota besar dan Negara di dunia itu muncul. keadaan ini juga
merupakan gambaran atau semacam penegasan identitas dari kelompok
tertentu. Penegasan ini bisa saja berupa ketidakpuasan, atau bisa saja
hanya mencari sesuatu untuk melepaskan “unek-unek” dalam kelompok geng
motor yang ujung-ujungnya berbuat keonaran.
Penulis sendiri juga
berpandangan bahwa: bakat dan minat anak remaja itu seharusnya
disalurkan pada kegiatan-kegiatan yang positif. Kita tidak
menjustifikasi bahwa geng motor itu “kriminal”. Namun yang patut
disoroti adalah: kelompok-kelompok anak muda yang mengaktualisasikan
dirinya dalam sekumpulan geng motor, cendrung bertingkah laku
“kebablasan” negatif thinking. Perilaku menyimpang (kriminalitas)
seperti ini sangat disayangkan memang, disatu sisi mereka (para remaja)
mempunyai jiwa “semangat yang membara”. Namun disisi lain anak remaja
juga rentan terkontaminasi pengaruh-pengaruh negatif dunia luar.
Kalau keadaan lingkungan
masyarakat sudah semakin kacau, terutama tindakan aksi brutal yang
dilakukan anggota geng motor. Maka ada dua langkah solusi yang tepat untuk menangani aksi brutal geng motor ini. Yang pertama solusi jangka pendek: aksi brutal geng motor harus segera di
tindak tegas para pelakunya. Berikan hukuman pidana supaya para anggota
geng motor menyesali perbuatanya. Karena sudah jelas, tindakan yang
dilakukan para anggota geng motor ini adalah kriminal murni. Mulai dari
pencurian hingga kearah kekerasan.
Sedangkan solusi untuk jangka panjangnya
adalah: seluruh komponen struktur sosial yang terdiri dari institusi
keluarga, pendidikan (sekolah) dan kepolisian. Semuanya harus dibenahi. Tiga institusi ini harus duduk bersama mengupayakan integrasi sosial dalam mencegah perilaku menyimpang anak remaja. Ada baiknya apabila institusi keluarga dalam hal ini peran orang tua harus lebih meningkatkan fungsi kontrol, proteksi serta “peningkatan kasih sayang yang lebih terhadap anak-anak mereka”. Institusi pendidikan (sekolah) harus meningkatkan penanaman nilai-nilai moralitas terhadap anak
didik pelajar, budi pekerti serta pelajaran Agama harus ditambah waktu
jam belajarnya. Selain itu juga kepolisian seharusnya lebih memahami
betul terhadap perubahan sosial dalam masyarakat, terutama pada remaja
yang kini cendrung berprilaku menyimpang. Antisipasi seperti ini akan mempermudah langkah polisi untuk mengurangi tindakan kriminal terhadap aksi brutal geng motor .

Posting Komentar