Banyaknya investasi dan perusahaan di Provinnsi Riau ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan sebagian mereka, menjadi contoh betapa rakyat sekitar perusahaan-perusahaan masih berada dalam kemiskinan. Padahal kekayaan sumber daya alamnya (SDA) terus dikuras habis-habisan. Namun rakyat lebih banyak diam, karena bingung tak tahu harus berbuat apa. Meskipun mereka memiliki wakil di DPR, suara mereka tak pernah terwakili. Rakyat sering tak mampu menyampaikan keresahannya kepada para pejabat. Mereka lebih banyak bersabar dan sering menyaksikan kemewahan hidup orang yang mengambil kekayaan di wilayahnya. Mereka hanya lebih banyak bersikap sabar. Namun, jika kesabaran mulai habis, maka yang muncul adalah kejengkelan yang hal ini mudah menyulut gejolak sosial. Ya, gimana lagi tempat “cari makan” sudah tidak ada. Padahal yang dieksploitasi adalah tanah mereka. Realita ini sangat kontras dengan isi pasal 33 UUD 1945, yang berbunyi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat”. Pasal itu seolah telah diganti, bahwa kekayaan alam yang ada di negeri Indonesia ini dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran pemilik modal, investor asing, atau “tikus-tikus gendut” yang sudah keterlaluan mengkhianati rakyat. Inilah ironi bangsa kita, mereka menderita kelaparan di lumbung padi. Kita adalah negara kaya raya, tetapi menjadi miskin karena keserakahan “penghianat bangsa” kita sendiri. Khususnya di Riau jumlah investasi di Riau terus mengalami peningkatan, APBD tahun anggaran 2013 pun bertambah, namun persoalan kesejahteraan rakyat masih menjadi kendala. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Mawardi Arsyad, Juma’t (4/1) mendata, Angka kemiskinan di Riau semenjak tahun 2012 lalu terjadi kenaikan sekitar 8,05% atau 481,31 ribu jiwa. Ironi memang, saat pemerintah menganggarkan 7,5 Miliar untuk pembangunan tugu PON, sementara kemiskinan semakin meningkat, harusnya pemerintah Provinsi harus prioritaskan kesejateraan rakyat daripada bentuk “pencitraan” semata. Yang lebih sangat disayangkan ketika ada yang berani menyampaikan “kebobrokan” pemimpin negeri ini mereka dikriminalisasikan oleh oknum aparat yang tidak senang ketika “kawan” mereka diganggu seperti 4 mahasiswa yang ditangkap baru-baru ini. kedepan, pemerintah yang menjadi eksekutor pendistribusian uang rakyat harus memprioriitakan proyek dan program yang bertujuan menyejahterakan rakyat. jangan sampai pemimpin Riau ini berperilaku seperti “penjajah” uang rakyat yang dipungut sebagai retribusi pajak tapi dihabiskan untuk kepentingan pribbadi, golongan dan proyek tidak berguna.
Uang Rakyat Untuk Rakyat Oleh Padli
Written By Unknown on Senin, 19 Agustus 2013 | 03.43
Banyaknya investasi dan perusahaan di Provinnsi Riau ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan sebagian mereka, menjadi contoh betapa rakyat sekitar perusahaan-perusahaan masih berada dalam kemiskinan. Padahal kekayaan sumber daya alamnya (SDA) terus dikuras habis-habisan. Namun rakyat lebih banyak diam, karena bingung tak tahu harus berbuat apa. Meskipun mereka memiliki wakil di DPR, suara mereka tak pernah terwakili. Rakyat sering tak mampu menyampaikan keresahannya kepada para pejabat. Mereka lebih banyak bersabar dan sering menyaksikan kemewahan hidup orang yang mengambil kekayaan di wilayahnya. Mereka hanya lebih banyak bersikap sabar. Namun, jika kesabaran mulai habis, maka yang muncul adalah kejengkelan yang hal ini mudah menyulut gejolak sosial. Ya, gimana lagi tempat “cari makan” sudah tidak ada. Padahal yang dieksploitasi adalah tanah mereka. Realita ini sangat kontras dengan isi pasal 33 UUD 1945, yang berbunyi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat”. Pasal itu seolah telah diganti, bahwa kekayaan alam yang ada di negeri Indonesia ini dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran pemilik modal, investor asing, atau “tikus-tikus gendut” yang sudah keterlaluan mengkhianati rakyat. Inilah ironi bangsa kita, mereka menderita kelaparan di lumbung padi. Kita adalah negara kaya raya, tetapi menjadi miskin karena keserakahan “penghianat bangsa” kita sendiri. Khususnya di Riau jumlah investasi di Riau terus mengalami peningkatan, APBD tahun anggaran 2013 pun bertambah, namun persoalan kesejahteraan rakyat masih menjadi kendala. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Mawardi Arsyad, Juma’t (4/1) mendata, Angka kemiskinan di Riau semenjak tahun 2012 lalu terjadi kenaikan sekitar 8,05% atau 481,31 ribu jiwa. Ironi memang, saat pemerintah menganggarkan 7,5 Miliar untuk pembangunan tugu PON, sementara kemiskinan semakin meningkat, harusnya pemerintah Provinsi harus prioritaskan kesejateraan rakyat daripada bentuk “pencitraan” semata. Yang lebih sangat disayangkan ketika ada yang berani menyampaikan “kebobrokan” pemimpin negeri ini mereka dikriminalisasikan oleh oknum aparat yang tidak senang ketika “kawan” mereka diganggu seperti 4 mahasiswa yang ditangkap baru-baru ini. kedepan, pemerintah yang menjadi eksekutor pendistribusian uang rakyat harus memprioriitakan proyek dan program yang bertujuan menyejahterakan rakyat. jangan sampai pemimpin Riau ini berperilaku seperti “penjajah” uang rakyat yang dipungut sebagai retribusi pajak tapi dihabiskan untuk kepentingan pribbadi, golongan dan proyek tidak berguna.
Label:
goresan


Posting Komentar